Time Travel

Mengenang masa lalu untuk memetik hikmah dan kembali mengobarkan semangat yang dahulu menyala-nyala.

keep-calm-and-time-travel-50

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Segala puji hanya bagi Allah subhaanahu wa ta’aala, dengan nikmat-Nya lah segala kebaikan menjadi sempurna. Semoga shalawat dan salam selalu teriring kepada sosok nan mulia dan sungguh berjasa bagi kita semua, Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Alhamdulillaah..

Sudah bersyukur belum hari ini, kawan?🙂

Ayolah..tentu saja kita harus bersyukur. Karena kita sadari atau tidak, hari ini Allah telah menganugerahi kita begitu banyak kenikmatan. Sebut saja satu contoh, kenikmatan bernafas. Dengan kuasa-Nya kita bisa bernafas tanpa perlu bersusah payah. Kita bisa menarik nafas sepuasnya tanpa perlu khawatir akan ada tagihan di penghujung hari kita untuk setiap volume udara yang kita hembuskan.

Alhamdulillaah… Allah sungguh menyayangi kita,kawan.

Berawal dari perjalanan ringan ke kota tempatku merasakan serunya bangku kuliah teknik, saya tergelitik untuk kembali “belajar berbagi dan memberi manfaat” lewat sebuah tulisan. Kali ini saya memberinya judul “Time Travel”, perjalanan menembus batas ruang dan waktu. Hehe..Mungkin tidak sepenuhnya raga ini telah mengarungi batas ruang dan waktu, tetapi setidaknya pikiran dan angan-angan kita mampu melakukannya. Dalam hitungan detik, pikiran kita bisa terbang ke masa lalu dan kembali ke masa dimana kita berada sesuka hati kita.

Ya.. kita memang tidak punya kuasa untuk mengubah masa lalu, tetapi yakinlah kawan, hari esok selalu jadi wahana yang menyenangkan untuk membuat masa lalu kita (seperti apa pun itu) jadi lebih bermakna. So…tetap semangaatt..!!

Dalam perjalananku kemarin, saya terhenti di sebuah sudut masjid, salah satu tempat dimana dulu saya biasa beraktivitas. Koridor utara Masjid Salman ITB. Suasana di tempat itu masih menyejukkan seperti biasanya. Lantai keramik yang dingin, nuansa hijau dari pepohonan yang tumbuh di sekitarnya serta angin yang berhembus lembut membuat kita nyaman bertahan disana meski matahari gagah bersinar terik.

Tatkala waktu maghrib tiba, dan iqamah telah dikumandangkan, jamuan berupa lantunan merdu ayat Al-Quran dari imam muda yang juga seorang mahasiswa, akan membuat kita hanyut dalam suasana haru. Setidaknya itulah yang saya rasakan waktu itu. Dahulu saya pun mendapat amanah untuk ada di antara laskar imam masjid megah itu. Saya pun sangat mengenal beberapa imam muda tersebut, karena dahulu kami pernah tinggal bersama di bawah satu atap sebagai anak asrama.

Saat ini mereka sudah tumbuh jadi imam yang hebat, hafalan Quran mereka tentu kini sudah semakin banyak. Bermakmum di belakang mereka juga sangat nyaman. Barakallaahu fiihum.. Allah telah menghadiahkan kepada mereka suara yang merdu. Detik-detik waktu yang telah mereka lewati, membentuk mereka menjadi seorang muslim bintang lima yang patut diapresiasi.

Lalu apa yang terjadi denganku? Sudahkah perkembanganku sebaik mereka? Ataukah kesenangan dunia telah melengahkanku? Bukankah waktu yang sudah kita lalui sama persis lamanya?

Oke., saya punya pencapaian di bidang lain. Namun, tetap saja interaksiku dengan Al-Quran tidak sebaik mereka. Padahal dahulu, semangatku tidak kalah dari mereka. Mishary Rashid, Fatih Seferagic atau Emad Al Manshary adalah beberapa syaikh yang selalu ingin kutirukan suaranya.

Fiiuuh…, perjalananku menembus ruang dan waktu rasanya semakin jauh.

Terkadang muncul beberapa penyesalan ketika kenangan masa kuliah kembali menghampiri. Banyak cita-cita yang kugantungkan semasa SMA dan ingin kuraih selama kuliah menguap ditelan kemalasan.

Ingin ikut lomba karya ilmiah mahasiswa tingkat nasional, ingin berangkat mewakili kampus di forum internasional, ingin terjun ke masyarakat membawa teknologi sederhana, ingin backpacker keliling Indonesia sebagai mahasiswa, ingin ikut short course/pertukaran pelajar ke luar negeri dan masih banyak keinginan lainnya yang lengah untuk kuwujudkan semasa kuliah.

Kadang juga saya sesali dinamika kuliahku yang terlalu statis, tanpa ada kenakalan seru ala mahasiswa yang pantas untuk dikenang. Misalnya ikut demo, main game di kosan teman sampai pagi, ikut agenda unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampus bareng teman-teman jurusan lain atau aktivitas lain yang bisa membuat masa kuliahku sedikit berwarna.

Namun, semua itu pilihan, kawan. Saya telah memilih untuk berkegiatan di unit seputar Masjid Salman yang kental dengan nuansa islami. Pikiran saya waktu itu, belum cukup terbuka untuk menerima keberagaman pola pikir atau perbedaan kebiasaan yang mungkin ditemui karena latar belakang yang berbeda. Saya lebih memilih jalan perjuangan melalui pembinaan karakter daripada aksi turun ke jalan.

Bersyukurlah kawan..jika sekiranya teman-teman pembaca memiliki pengalaman yang sama, setidaknya kita telah dikenalkan dengan rekan sejawat yang dapat menjaga kita untuk selalu bersemangat menapaki jalan kebenaran ini. Ini nikmat yang besar lho..Bersyukur karena kita pernah merasakan suasana damai dan tentram dalam hati ketika mendengar lantunan merdu bacaan Quran. Yakinlah hanya orang-orang terpilih yang merasakan nikmat ini. Kita bukanlah orang-orang yang rugi.. In syaa Allah..

Alhamdulillaah..

Sebelum ingatanku terjebak makin jauh dalam nostalgia, saya pun menyadari masa-masa itu tidak mungkin saya ulangi lagi. Waktu memang istimewa. Sesuatu yang paling jauh, tetapi juga paling dekat. Dekat karena saat inipun kita tengah meniti jalan dalam bingkai waktu. Jauh karena kita tidak punya kuasa untuk mengambil kembali waktu kita, walau hanya sedetik yang lalu.

(This is note for myself too)

Tidak mengapa kita tidak punya pengalaman nakal semasa kuliah, toh kita masih punya kenangan manis bersama teman-teman sholih di sekitar kita. Belum lagi kita dapat bonus yang lebih besar berupa sejumlah hafalan Quran dalam hati kita. Itu jauh lebih tak ternilai.

Adapun tentang cita-cita yang belum berhasil kita wujudkan semasa kuliah, tidak perlu patah semangat. Sekarang pun belum terlambat untuk memulai mewujudkannya kembali. Ambil kembali semangat masa itu dan susun kembali semua mimpi-mimpi itu. Tuliskan dalam secarik kertas dan tempelkan di tempat yang mudah kita lihat. Kita belum terlambat dan hari esok pun masih ada. Sekedar menyesali masa lalu tidak akan mengubahnya menjadi lebih baik.

Terakhir mari kita ingat nasehat bijak dari sosok paling bijak sepanjang sejarah manusia. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Apabila engkau memiliki sebiji kurma di tanganmu maka tanamlah. Meskipun besok akan kiamat, semoga engkau mendapat pahala”  (HR Ahmad)

Alhamdulillah..dalam perjalanan menembus batas ruang dan waktu kali ini, saya berhasil membawa buah tangan berupa segenggam semangat dari masa itu.

Bagaimana denganmu., tertarik melakukan time travel juga? Cobalah.

Kesempurnaan hanya milik Allah, dan penulis pun tidak pernah luput dari kesalahan. Jika dalam tulisan ini ada kebenaran, semuanya datang dari Allah subhaanhu wa ta’aala. Dan jika ada kesalahan datangnya dari kelemahan saya pribadi.

Feel free to leave your comment.. ^_^

Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s